Dunia HERBAL [Bawang Putih]

Uncategorized
Ginjal termasuk organ dalam tubuh yang memiliki fungsi sebagai penyaring darah, serta membuang limbah dan kelebihan cairan dari dalam tubuh Anda. Ketika gangguan ginjal mencegah ginjal untuk berfungsi baik, limbah yang berasal dari makanan dan minuman yang tidak berhenti kita konsumsi akan semakin membentu dan merusak tubuh.
Contoh umumnya adalah penyakit Diabetes, darah tinggi dan kondisi kesehatan lainnya yang bisa menyebabkan gagal ginjal. Namun, terdapat satu bahan rempah tradisional yang sangat umum dan mudah ditemukan di dapur rumah kita sebagai salah satu alternatif alami pembersih ginjal, yaitu bawang putih.
Khasiat Bawang Putih Sebagai Pembersih Ginjal Alami
Bawang putih adalah bahan tradisional yang sudah sejak lama digunakan sebagai campuran dalam ramuan obat tradisional. Manfaatnya diketahui sangat efektif dalam membantu meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh, mencegah penyakit kardiovaskular seperti jantung, juga penyakit kanker.
Berdasarkan penelitian para ahli dari University of Maryland Medical Center, mengenalkan bahwa bawang putih memang memiliki kandungan antioksidan tinggi dan bermanfaat sebagai penghilang partikel berbahaya atau biasa disebut dengan zat radikal bebas yang dapat menyebabkan banyak penyakit berkembang di dalam tubuh serta mempercepat proses penuaan.
Bawang putih dinilai cukup penting dalam membantu meningkatkan kesehatan juga fungsi ginjal. Hal ini karena berdasarkan sifat diuretik yang dimiliki bawang putih. Diuretik dapat membantu menghilangkan natrium (garam) dan air di dalam tubuh Anda dan memaksa ginjal untuk menempatkan lebih banyak natrium dalam urin. Lalu garam yang menyerap air dari dalam darah dapat mengurangi jumlah cairan yang harusnya mengalir melalui pembuluh darah. Akibat dari kekurangan cairan dapat menurunkan tekanan pada dinding arteri Anda. Jika tekanan darah tinggi terjadi, hal ini bisa langsung membahayakan arteri dan merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Jika pembuluh ginjal rusak, hal ini dapat merusak fungsi ginjal lainnya sebagai penyaring air dari darah.
Bawang putih dapat menjadi pelindung ginjal dari efek potensi berbahaya logam berat seperti kadmium dan timbal. Menurut studi Jordan Universiity of Science and Technology, asupan bawang putih dapat menurunkan konsentrasi timbal dan kadmium dalam ginjal, hati, jantung, darah dan limpa. (Livestrong, Minggu (2/10/2016).
·         Tidak hanya kaum pria saja yang bisa menderita penyakit batu ginjal, wanita pun sama beresikonya.
Penyebab dari wanita mengalami batu ginjal sampai saat ini dipicu oleh faktor gaya hidup yang kurang sehat. Seperti yang dilansir Boldsky pada 14 September lalu, ada 4 tanda yang bisa kita kenali jika wanita tersebut menderita batu ginjal. Diantaranya :
Kenali 4 Tanda Wanita Yang Menderita Batu Ginjal
1. Jarang sekali buang air kecil.
Tanda yang pertama adalah jarang buang air kecil. Walaupun banyak sekali minum dalam sehari, wanita mengeluh jarang buang air. Gejala ini adalah tanda dari ginjal yang bermasalah. Jika begitu sebaiknya segera periksakan kondisi Anda.
2. Urin berbusa.
Yang kedua ternyata tandanya dapat dikenal dari urin yang berbusa. Urin yang berbusa / berbuih mengakibatkan wanita juga menderita infeksi pada saluran kemuh. Keduanya sama-sama membahayakan.
3. Mengeluh demam.
Demam tinggi berkepanjangan juga merupakan tanda lain bahwa ginjal sedang bermasalah. Hal ini tidak bisa diabaikan, apalagi kalau disertai dengan rasa mual dan urin yang keruh.
4. Urin berdarah.
Jika warna urin tiba-tiba terlihat tidak biasa dan memiliki warna kemerahan, hati-hati itu bisa jadi indikasi adanya batu ginjal. Apalagi jika urin Anda bau menyengat tak seperti biasanya.



Mengangkat Hasil Studi Mahasiswi-Mahasiswa dan Meng Appresiasikannya serta Pengembangannya yang signifikan dan Berkesinambungan Dalam Dunia Kesehatan Sebagai Bahan Pengobatan ataupun Terapi dari kelanjutan yang berkesinambungan, Bahwa Extrak atau Atas Bawang Putih tsb, ataupun dimakan dalam bentuk siung atau rempang lebih femiliar di inisialkan satu siuang bawang putih mentah yang telah diiris tipis2 kemudian dicampur dengan 1 (satu) sendok makan madu murni kmudian dikonsumsi bersamaan dengan madu tersebut, dapat mengurangi rasa nyeri pada luka, dan asam urat. (by M.Akbars)


AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK TUNGGAL
BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) DAN RIMPANG
KUNYIT (Curcuma domestica Val.) TERHADAP Salmonella
typhimurium
SUNANTI
PROGRAM STUDI BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2007
ABSTRAK
SUNANTI. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tunggal Bawang Putih (Allium sativum
Linn.) dan Rimpang Kunyit terhadap Salmonella typhimurium. Dibimbing oleh
MEGA SAFITHRI dan SURYANI.
Bawang putih dan kunyit memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini
menentukan daya hambat minimum bawang putih dan kunyit terhadap Salmonella
thypimurium, waktu simpan yang baik untuk bawang putih, serta penentuan
senyawa metabolit sekunder pada kunyit.
Bawang putih diambil filtratnya, sedangkan kunyit diektraksi dengan
metode maserasi menggunakan metanol 70 %. Metode difusi agar berlubang
digunakan untuk menentukan aktivitas antibakterinya. Konsentrasi yang
digunakan 1 % sampai 100 %. Bawang putih disimpan selama 3 dan 7 hari pada
suhu 10 ºC dan 27 ºC dan diuji aktivitas antibakterinya. Tetrasiklin 10 %
digunakan sebagai pembanding. Uji kualitatif fitokimia untuk mengetahui
metabolit sekunder pada ekstrak kunyit.
Rendemen ekstrak kunyit sebesar 7.31 %. Semakin tinggi konsentrasi
bawang putih dan ekstrak kunyit, maka semakin tinggi zona hambat yang
dihasilkan. Bawang putih memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi
dibandingkan dengan ekstrak kunyit. Konsentrasi Hambat Tumbuh minimum
bawang putih dan ekstrak kunyit sebesar 2 % dengan zona hambat masing-masing
2.58 mm dan 0.52 mm. Zona hambat tetrasiklin 10 % sebesar 11.69 mm.
Efektivitas bawang putih 10 % (4.54 mm) dan ekstrak kunyit 10 % (3.38 mm)
hanya 38.84 % dan 28.91 % jika dibandingkan dengan tetrasiklin 10 %. Masa
simpan bawang putih optimum pada hari ke-3 suhu 10 ºC.
ABSTRACT
SUNANTI. Antibacterial Activity of Single Extract of Garlic and Curcuma to
Salmonella typhimurium. Under the supervisor MEGA SAFITHRI dan
SURYANI.
Garlic and curcuma have antibactery. The aim of this research determine
in minimum inhibitory zone of garlic and curcuma against to Salmonella
typhimurium, life storange of garlic, and secondary metabolite compound in
curcuma.
Garlic extract was obtained by grinding (filtrate) and curcuma was
extracted by maceration methode by methanol 70 %. Diffusion agar methode was
carried out to determinate antibacterial activity. With concentrate variation 1 % up
to 100 %. Garlic was stored for 3 and 7 days at temperature 10 ºC and 27 ºC and
antibacterial activity was examined. Tetracycline was used as comparison with
concentration 10 %. Fitochemistry assay was done in order to find secondary
metabolite in curcuma extract.
Curcuma extraction produced 7.31 % yield. The increasing garlic and
curcuma extract concentration resulted the increasing of inhibition zone. Garlic
has higher antibacterial activity than curcuma extract. Minimum Inhibitory
Concentration of garlic and curcuma extract is 2 % resulted inhibiton zone 2.58
mm and 0.52 mm sequently. Inhibition zone of tetracycline 10 % is 11.69 mm.
The efectivity of 10 % of garlic (4.54 mm) and 10 % of curcuma extract (3.38
mm) shower only 38.84 % and 28.91 % compered with 10 % of tetracycline. Life
storange og garlic at third day at temperature 10 ºC.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK TUNGGAL
BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) DAN RIMPANG
KUNYIT (Curcuma domestica Val.) TERHADAP
Salmnonella typhimurium
SUNANTI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Program Studi Biokimia
PROGRAM STUDI BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
5
Judul : Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tunggal Bawang Putih (Allium
sativum Linn.) dan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.)
terhadap Salmonella typhimurium
Nama : Sunanti
NIM : G44103033
Disetujui
Komisi Pembimbing
Mega Safithri, M.Si. Dr. Suryani
Ketua Anggota
Diketahui
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, M.S.
NIP 131 473 999
Tanggal Lulus :
6
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya dalam menyelasaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini
merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi
Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini
dilaksanakan dari bulan November 2006 sampai April 2007 dengan judul
Aktivitas Antibakteri Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Ekstrak Tunggal
Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) terhadap Salmonella typhimurium
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Mega Safithri, M. Si. dan Ibu Dr.
Suryani selaku pembimbing atas segala kesabarannya dan pengarahannya selama
penelitian dan penulisan skripsi. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada
Ibu Iis, Ibu Mery, Pak Arya, Pak Yadi, serta seluruh staf Laboratorium Biokimia
atas fasilitas dan kemudahan yang diberikan dan teman-teman penelitian Solina,
Ka Novan, Nuri, Nican, dan Adi atas bantuannya selama penelitian. Ucapan
terima kasih juga penulis sampaikan kepada Mba Leni, Mba Ros, dan temanteman
satu kos yang telah membantu dan memberi semangat dalam penulisan
karya ilmiah ini. Tak lupa ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada kedua
orang tua tercinta, kakak, adik, dan seluruh keluarga atas segala materi, dukungan,
perhatian, kasih sayang, dan doanya.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang sekiranya dapat digunakan untuk
perbaikan. Semoga karya ilmiah ini dapat berguna bagi pihak yang membutuhkan.
Amin.
Bogor, Mei 2007
Sunanti
7
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 18 Juli 1985 dari pasangan
Abdurahim dan Sadiyah. Penulis merupakan putri kedua dari tiga bersaudara.
Tahun 2003 penulis berhasil menyelesaikan sekolah di SMU Negeri 1
Lemahabang dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Program Studi Biokimia,
Jurusan Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Tahun 2006, penulis melaksanakan Praktek Lapangan di Balai Besar
Industri Agro (BBIA), Bogor. Tema yang diambil adalah “Pengujian Kebutuhan
Oksigen Kimiawi (KOK) Pada Contoh Limbah Cair Secara Refluks Terbuka”.
Tahun 2006/2007 penulis menjadi guru privat di Lembaga Bimbingan Belajar
Nurul Ilmi sebagai guru Matematika. Selama kuliah, penulis aktif di Himpro
Crebs periode 2005/2006.
8
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR . ................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ ix
PENDAHULUAN . ..................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA
Kandungan Senyawa Kunyit (Curcuma domestica Val.) ........................ 2
Kandungan Senyawa Bawang Putih (Allium sativum Linn.) . ................. 3
Antibakteri ............................................................................................... 3
Mekanisme Kerja Antibakteri ................................................................ 4
Salmonella typhimurim ........................................................................... 4
Tetrasiklin ................................................................................................. 5
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat ......................................................................................... 5
Metode Penelitian ................................................................................... 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Pendahuluan ........................................................................... 7
Ekstraksi Rimpang Kunyit ...................................................................... 8
Analisis Fitokimia ..................................................................................... 8
Efektivitas Penghambatan Filtrat Bawang Putih dan Ekstrak Metanol
Rimpang Kunyit Terhadap Tetrasiklin 10 % ............................................. 9
Penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) ................ 10
Pengujian Aktivitas Antibakteri Bawang Putih Selama Penyimpanan ..... 12
SIMPULAN DAN SARAN.......................................................................... 13
Simpulan ............................................................................................ 13
Saran .................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14
LAMPIRAN ................................................................................................ 17
9
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Rimpang kunyit............................................................................................. 2
2 Bawang putih. ............................................................................................ 3
3 Salmonella typhimurium. ............................................................................ 5
4 Struktur kimia golongan tetrasiklin ........................................................... 5
5 Aktivitas antibakteri berbagai ekstrak rimpang kunyit .............................. 8
6 Perbandingan daya hambat filtrat bawang putih dan ekstrak metanol rimpang
kunyit terhadap tetrasiklin 0.1mg/mL ......................................................... 10
7 Konsentrasi hambat tumbuh minimum S. typhimurium ............................. 11
8 Aktivitas antibakteri bawang putih selama penyimpanan ............................ 13
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Bagan alir penelitian ............................................................................... 18
2 Bagan alir pembuatan filtrat bawang putih ............................................... 18
3 Bagan alir pembuatan ekstrak rimpang kunyit ......................................... 19
4 Uji aktivitas antibakteri metode perforasi ................................................. 20
5 Nilai rendemen ekstrak metanol rimpang kunyit ....................................... 21
6 Diameter zona hambat filtrat bawang putih ............................................... 21
7 Diameter zona hambat ekstrak metanol rimpang kunyit .......................... 22
8 Diameter zona hambat filtrat bawang putih selama penyimpanan ........... 23
9 Diameter zona hambat tetrasiklin 0.1 mg/mL. .......................................... 23
10 Foto zona hambat ekstrak kunyit dengan berbagai pelarut ....................... 23
11 Foto zona hambat filtrat bawang putih ..................................................... 23
12 Foto zona hambat ekstrak metanol rimpang kunyit ................................. 23
13 Foto zona hambat tetrasiklin dan filtrat bawang putih
selama penyimpanan ................................................................................ 24
14 ANOVA diameter zona hambat .............................................................. 25
10
15 Analisis tukey diameter zona hambat ....................................................... 25
16 ANOVA diameter zona hambat filtrat bawang putih selama penyimpanan 26
17 Analisis tukey diameter zona hambat filtrat bawang putih selama
penyimpanan ............................................................................................. 26
18 Foto analisis fitokimia ............................................................................... 27
1
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang sangat
kaya akan flora dan fauna. Bahkan kekayaan
alam Indonesia menjadi salah satu yang
terbesar di dunia. Di antara kekayaan flora
(tumbuh-tumbuhan) tersebut, banyak di
antaranya yang termasuk kategori tanaman
obat dan ini sudah dimanfaatkan oleh nenek
moyang kita sejak berabad-abad lalu.
Pemanfaatan tanaman untuk mengobati suatu
penyakit sudah bukan menjadi rahasia lagi.
Ramuan tradisional, termasuk jamu adalah
salah satu bukti konkritnya, selain itu banyak
ramuan tradisional yang sudah dihasilkan dan
dimanfaatkan.
Penggunaan obat tradisional sudah
semakin meningkat dan bukan lagi menjadi
obat alternatif. Saat ini telah diketahui bahwa
tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat
tersebut mengandung zat-zat kimia aktif yang
memiliki potensi besar, salah satunya adalah
untuk menghambat aktivitas bakteri. Namun,
produksi obat-obatan tradisional, memiliki
beberapa kelemahan salah satunya adalah
belum banyaknya pengetahuan dan penelitian
mengenai kandungan kimia dan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas
biologisnya. Oleh karena itu, hal tersebut
membutuhkan pengetahuan dan penelitian
lebih mendalam. Seperti contohnya, tata cara
pengolahan yang tepat, proses dan mekanisme
untuk dapat menghasilkan produk yang lebih
berkualitas tinggi. Hal tersebut membutuhkan
banyak kajian tentang pengolahan simplisia
menjadi obat tradisional yang bermutu tinggi.
Pengembangan yang lebih lanjut dilakukan
agar dapat dihasilkan suatu produk
fitofarmaka. Salah satu tanaman obat yang
dapat dimanfaatkan untuk pengobatan
salmonellosis adalah bawang putih dan
rimpang kunyit. Salmonellosis merupakan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri
salmonella. Salmonellosis menimbulkan
berbagai dampak yang merugikan. Pada
peternakan ayam, salmonellosis menyebabkan
penurunan produktivitas ayam dan kematian.
Salmonellosis juga sangat merugikan ditinjau
dari kesehatan masyarakat, karena
salmonellosis bersifat zoonosis yang dapat
menimbulkan penyakit pada manusia,
sehingga pengendalian salmonellosis perlu
dilakukan (Dirjen Peternakan 1982).
Bawang putih (Allium sativum Linn.)
mengandung senyawa antimikrob yang telah
banyak digunakan oleh masyarat. Bawang
putih memiliki kandungan kimia seperti
karbohidrat, protein, sterol, saponin, alkaloid,
flavonoid, dan triterpenoid (Safithri 2004).
Menurut Lawson et al. (1990), bawang putih
mengandung komponen alisin yang berfungsi
sebagai antibakteri. Rustama dkk.(2005) telah
membuktikan bahwa bawang putih sangat
potensial sebagai antibakteri baik terhadap
bakteri Gram positif maupun bakteri Gram
negatif. Penelitian lain menemukan bahwa
filtrat bawang putih dengan konsentrasi 10%
memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.
typhimurium yang lebih besar daripada
antibiotik tetrasiklin 100 μg/mL (Suharti
2004).
Sifat antibakteri dalam rimpang kunyit
disebabkan oleh kandungan kimia utamanya,
yaitu kurkuminoid dan minyak atsiri.
Kurkuminoid berkhasiat menetralkan racun,
menghilangkan rasa nyeri sendi, menurunkan
kadar kolesterol dan triasilgliseril darah,
antibakteri, dan sebagai antioksidan penangkal
senyawa-senyawa radikal bebas yang
berbahaya. Minyak atsiri pada rimpang kunyit
berkhasiat sebagai cholagogum, yaitu bahan
yang dapat merangsang pengeluaran cairan
empedu yang berfungsi sebagai penambah
nafsu makan dan anti spasmodicum, yaitu
menenangkan dan mengembalikan kekejangan
otot (Liang et al. 1985).
Dalam penelitian ini akan dipelajari
aktivitas antibakteri dari filtrat bawang putih
(Allium sativum Linn.) dan ekstrak rimpang
kunyit (Curcuma domestica Val.) terhadap
Salmonella typhimurium. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukkan daya hambat
minimum dan maksimum filtrat bawang putih
dan rimpang kunyit terhadap S. typhimurium.
Selain itu juga untuk mendapatkan waktu
simpan yang baik dari filtrat bawang putih dan
menentukan senyawa metabolit sekunder yang
terdapat dalam filtrat bawang putih dan
ekstrak rimpang kunyit.
Hipotesis penelitian ini adalah filtrat
bawang putih dan ekstrak rimpang kunyit
mampu menghambat kerja bakteri S.
typhimurium. Selain itu, aktivitas filtrat
bawang putih dapat bertahan selama satu
minggu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi ilmiah mengenai
aktivitas antibakteri filtrat bawang putih dan
ekstrak rimpang kunyit S. typhimurium,
sehingga dapat meningkatkan nilai guna bagi
tanaman tersebut dan dapat mengganti
antibiotik yang selama ini dipakai peternak.
Selain itu diharapkan dapat memberikan
informasi penyimpanan maksimum dari filtrat
bawang putih.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan
November 2006 sampai April 2007. Penelitian
2
dilaksanakan di Laboratorium Biokimia,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Pertanian Bogor.
TINJAUAN PUSTAKA
Kandungan Senyawa Kunyit (Curcuma
domestica Val.)
Tanaman kunyit pada mulanya
diperkenalkan ke dunia ilmu pengetahuan
dengan nama Curcuma longo koen. Valenton
(1918) mengusulkan nama baru, yaitu
Curcuma domestica, karena ternyata nama
tersebut telah digunakan untuk jenis rempah
lainnya. Awalnya tanaman kunyit berasal dari
India kemudian kunyit diperkenalkan ke
negara Asia lainnya seperti Asia Tenggara dan
Selatan. Tanaman ini juga menyebar dengan
cepat dari Asia Tenggara ke wilayah-wilayah
lain, seperti Cina, Kepulauan Salomon, Haiti,
Pakistan, Taiwan, dan Jamaika. Di Indonesia
sendiri tanaman kunyit menyebar secara
merata diseluruh wilayah. Karena itu, kunyit
dikenal dengan nama yang berbeda disetiap
daerah, seperti: kunyet (Aceh); kunyit
(Melayu); kunir, kunir bentis, temukuning
(Jawa); kunyir, koneng, konengtemen
(Sunda); dan kunit, janar (Kalimantan)
(Winarto 2003).
Kunyit (Gambar 1) diklasifikasikan ke
dalam kingdom Plantae (tumbuh-tumbuhan),
divisi (divisio) Spermatophyta (tumbuhan
berbiji), anak divisi (sub-divisio)
Angiospermae (berbiji tertutup), kelas (class)
Monocotyledonae (biji berkeping satu),
bangsa (ordo) Zingiberales, suku (family)
Zingiberaceae (temu-temua), marga (genus)
Curcuma, dan jenis (species) Curcuma
domestica Val (Winarto 2003). Bagian
terpenting dalam pemanfaatan kunyit adalah
rimpangnya. Senyawa aktif yang terkandung
dalam rimpang kunyit adalah Curcuminoid
(zat pewarna kuning). Curcuminoid dalam
kunyit adalah curcumin (75%),
demethoxycurcumin (15-20%) dan
bisdemethoxycurcumin (±3%). Curcumin
merupakan senyawa fenolik yang dapat
mengubah permeabilitas membran sitoplasma
yang menyebabkan kebocoran nutrisi dari sel
sehingga sel bakteri mati atau terhambat
pertumbuhannya (Marwati dkk. 1996).
Kunyit merupakan jenis temu-temuan
yang mengandung senyawa kimia yang
memiliki aktivitas fisioiogi yaitu minyak atsiri
(mengandung senyawa-senyawa kimia
seskuiterpen alcohol, turmeron, dan
Gambar 1 Rimpang kunyit
zingiberen) dan kurkuminoid (mengandung
senyawa kurkumin dan turunnya berwarna
kuning yang meliputi desmetoksikurkumin
dan bisdesmetoksikurkumin). Rimpang kunyit
mengandung pati atau amilum, gom dan
getah. Minyak atsiri juga memberi aroma
harum dan rasa khas pada umbinya. Kunyit
mengandung curcumin (zat berwarna kuning),
turmeron, zingiberen, minyak volatil, turmerol
(minyak turmerin, yang menyebabkan rasa
aromatis dan wangi kunyit), fellandren,
kamfer, curcumon, lemak, pati, damardamaran.
Berdasarkan percobaan telah
ditemukan bahwa minyak volatilnya
mengurangi kematian tikus besar yang telah
diinfeksi dengan virus influensa (Achyad dan
Rasyidah 2000). Kemampuan minyak atsiri
sebagai antibakteri juga diperkuat oleh hasil
penelitian Rahayu dkk (1996) yang
menyatakan bahwa minyak atsiri mampu
menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus, Salmonella typosa,
Streptococcus, Staphylococcus epidermidis, E.
coli, dan Klebseilla.
Berdasarkan percobaan Wahjoedi dkk.
(2003) telah ditemukan bahwa perasan kunyit
dapat menurunkan suhu tubuh tikus yang
didemamkan dengan vaksin kotipa buatan
Kimia Farma. Kunyit juga dipakai sebagai
anti gatal dan anti kejang dan sebagai obat
ginvitis (pembengkakan selaput lendir mulut).
Berdasarkan Farmakope Cina, rimpang kunyit
dipakai sebagai obat sakit dada dan perut,
sakit pada haid, luka-luka, dan borok (Achyad
dan Rasyidah 2000). Selain sebagai anti
bakteri, kunyit juga dapat digunakan untuk
menghambat pertumbuhan cendawan.
Dharmaputra dkk. (1999) melaporkan ekstrak
aseton dan ekstrak air kunyit mampu
menghambat pertumbuhan Aspergillus
candidus, A. flavus, dan Penicillium citinum.
Selain itu, dilaporkan bahwa penambahan
tepung kunyit pada ransum ayam dapat
menambah berat badan ayam (Retnaningati
2003).
3
Kandungan Senyawa Bawang putih
(Allium sativum Linn.)
Bawang putih adalah herba semusim
berumpun yang memiliki ketinggian sekitar
60 cm. Bawang putih diduga berasal dari Asia
Tenggara, diantaranya Cina dan Jepang,
namun bawang putih sudah tergambar jelas di
piramida Mesir sejak 2780-2100 SM dan di
India digunakan sebagai bahan pengobatan
hipertensi (Yamaguchi 1983). Bawang putih
menyebar keseluruh daerah di Lautan Tengah
dan oleh pedagang Cina dibawa ke Indonesia
(Wibowo 1988).
Bawang putih (Gambar 2) mempunyai
nama yang berbeda-beda di setiap daerah
seperti bawang putih (Melayu), lasun (Aceh),
dasun (Minangkabau), lasuna (Batak), bacong
landak (Lampung), bawang bodas (Sunda),
bawang (Jawa), babang pole (Madura),
bawang kasihong (Dayak), lasuna kebo
(Makasar), lasuna pote (Bugis), pia moputi
(Gorontalo), incuna (Nusa Tenggara).
Berdasarkan Tjitrosoepoemo (1994), bawang
putih diklasifikasikan ke dalam kingdom
plantea, divisi (divisio) spermatophyta, anak
divisi (sub-divisio) Angiospermae, kelas
(class) Monocotyledonae, bangsa (ordo)
Liliflorae, suku (family) Liliceae, marga
(genus) Allium, dan jenis (species) Allium
sativum Linn.
Bawang putih mengandung munyak
atsiri, alliin, kalium, saltivine, diallylsulfide
(PDII LIPI 2007). Bawang putih mempunyai
aktivitas sebagai antibakteri dan antifungi.
Kemampuan bawang putih sebagai antibakteri
didukung penelitian Rustama dkk. (2005) yang
menyatakan bahwa bawang putih mampu
menghambat pertumbuhan bakteri Gram
positif dan Gram negatif. Kemampuan
bawang putih ini berasal dari zat kimia yang
terkandung di dalam umbi. Zat kimia tersebut
adalah alil sulfida (biasa disebut alisin) yang
diduga merusak dinding sel dan menghambat
sintesis protein. Berdasarkan penelitian Bidura
(1999), adanya alil sulfida sebagai antibakteri
akan dapat menekan pertumbuhan bakteri
coliform atau bakteri yang merugikan, dan hal
ini akan memberikan peluang pertumbuhan
mikroorganisme yang menguntungkan di
dalam saluran pencernaan itik, sehingga
pemanfaatan zat-zat makanan untuk
pertumbuhan dapat maksimum. Alisin tidak
terbentuk pada tanaman utuh bawang putih,
karena pada bawang putih utuh mengandung
aliin dan enzim alinase. Apabila bawang putih
diiris atau dihancurkan, maka aliin akan
bereaksi dengan enzim alinase membentuk
alisin (Ankri & Mirelman 1999).
Berdasarkan penelitian Suharti dkk.
(2005), penambahan bawang putih pada
ransum ayam broiler selain sebagai antibakteri
juga mampu meningkatkan pertambahan
bobot badan ayam yang terinfeksi S.
typhimurium. Ekstrak bawang putih juga dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella
enteritidis, Staphylococcos aureus, dan
Salmonella typosa (Poeloengan 2001). Selain
itu, bawang putih juga dapat menurunkan
gejala aflotoksin (Maryam dkk. 2003).
Gambar 2 Bawang putih
Antibakteri
Mikroorganisme dapat menyebabkan
banyak bahaya dan kerusakan. Hal ini nampak
dari kemampuannya menginfeksi manusia,
hewan, serta tanaman, menimbulkan penyakit
yang berkisar dari infeksi ringan sampai
kepada kematian. Mikroorganisme dapat
disingkirkan, dihambat atau dibunuh secara
fisik maupun kimia. Bahan antimikrob
merupakan salah satu penghambatan
mikroorganisme secara kimia yang
mengganggu pertumbuhan dan metabolisme
mikrob. Antimikrob meliputi antibakteri,
antiprotozoa, antifungal, dan antivirus.
Antibakteri termasuk ke dalam antimikrob
yang digunakan untuk menghambat
pertumbuhan bakteri (Schunack et al 1990).
Antibakteri adalah zat yang menghambat
pertumbuhan bakteri dan digunakan secara
khusus untuk mengobati infeksi (Pelczar &
Chan 1988). Berdasarkan cara kerjanya
antibakteri dibedakan menjadi bakteriostatik
dan bakterisidik (Schunack et al 1990).
Antibakteri bakteriostatik bekerja dengan cara
menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan
antibakteri bakterisidik bekerja dengan cara
mematikan bentuk-bentuk vegetatif bakteri.
Bakteristatik dapat bertindak sebagai
bakterisidik dalam konsentrasi tinggi (Pelczar
& Chan 1988).
Kerja antibakteri dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu: konsentrasi atau
intensitas zat antibakteri, jumlah
mikroorganisme, suhu, spesies
mikroorganisme, adanya bahan organik, dan
4
keasaman atau kebasaan (pH). Senyawa kimia
utama yang memiliki sifat antibakteri adalah
fenol dan persenyawaan fenolat, alkohol,
halogen, logam berat, deterjen, dan aldehida.
Fenol bekerja terutama dengan cara
mendenaturasi protein sel dan merusak
membran sel. Persenyawaan fenolat dapat
bersifat bakterisidik atau bakteriostatik
tergantung kepada konsentrasi yang
digunakan. Alkohol bekerja dengan cara
mendenaturasi protein sel, selain itu alkohol
merupakan pelarut lipid sehingga dapat juga
merusak membran sel (Pelczar & Chan 1988).
Kadar minimun yang dibutuhkan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri atau
membunuhnya, masing-masing dikenal
sebagai Kadar Hambat Tumbuh Minimal
(KHTM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM).
Sifat antibakteri dapat berbeda satu dengan
yang lainnya, berdasarkan perbedaan sifat ini
antibakteri dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu berspektrum sempit dan berspektrum
luas (Ganiswarna 1995). Menurut
Dwijoseputro (1990), antibakteri berspektrum
luas efektif terhadap berbagai jenis mikroba,
sedangkan antibakteri berspektrum sempit,
hanya efektif terhadap mikroorganisme
tertentu.
Mekanisme Kerja Antibakteri
Menurut Pelczar & Chan (1988)
mekanisme kerja antibakteri dapat terjadi
melalui lima cara, yaitu hambatatan sintesis
dinding sel, perubahan permeabilitas sel,
perubahan molekul dan asam nukleat,
penghambatan kerja enzim, dan
penghambatan sintesis asam nukleat dan
protein.
Hambatan sintesis dinding sel. Struktur
dinding sel dirusak dengan cara menghambat
pembentukannya atau mengubahnya setelah
selesai terbentuk.
Perubahan permeabilitas sel. Membran
sitoplasma mempertahankan bahan-bahan
tertentu di dalam sel serta mengatur aliran
keluar-masuknya bahan-bahan lain. Membran
memelihara integritas komponen-komponen
selular. Kerusakan pada membran ini akan
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel
atau matinya sel.
Perubahan molekul dan asam nukleat.
Hidupnya suatu sel bergantung pada
terpeliharanya molekul-molekul protein dan
asam nukleat dalam keadaan alamiahnya.
Suatu kondisi atau substansi yang mengubah
keadaan ini, yaitu mendenaturasi protein dan
asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa
dapat diperbaiki kembali. Suhu tinggi dan
konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat
mengakibatkan koagulasi (denaturasi)
ireversibel (tak dapat balik) komponenkomponen
selular yang vital ini.
Penghambatan kerja enzim. Setiap enzim
dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang
ada di dalam sel merupakan sasaran potensial
bagi bekerjanya suatu penghambat. Banyak
zat kimia telah diketahui dapat mengganggu
reaksi biokimia. Penghambatan ini dapat
mengakibatkan terganggunya metabolisme
atau matinya sel.
Penghambatan sintesis asam nukleat dan
protein. DNA, RNA, dan protein memegang
peranan yang sangat penting di dalam proses
kehidupan normal sel. Hal ini berarti bahwa
gangguan apapun yang terjadi pada
pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut
dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel.
Salmonella typhimurium
Pada penelitian ini digunakan bakteri uji
Salmonella typhimurium (Gambar 3). Mikroba
Salmonella termasuk ke dalam kelompok
enterobakteriaceae. S. typhimurium
dikalsifikasikan ke dalam kingdom Plant
Kingdom, divisi (divisio) Protophyta, kelas
(class) Schizomycetes, bangsa (ordo)
Eubacteriales, suku (family)
Enterobacteriaceae, marga (genus)
Salmonella, dan jenis (species) S.
typhimurium.
Bakteri Salmonella merupakan bakteri
berbentuk batang pendek dengan ukuran 0.5
μm x 3.0 μm, bersifat Gram negatif, anaerob
fakultatif, oksidase negatif, katalase positif,
tidak berspora, fermentatif dan motil (Lay dan
Hastowo 1992). Umumnya Salmonella dapat
hidup pada kisaran suhu antara 5ºC-47ºC
dengan suhu optimum untuk pertumbuhan
35ºC-37ºC. Kisaran pH untuk pertumbuhan
Salmonella antara 4.5-9.0 dengan pH
optimum sekitar 6.5-7.5 dan dapat mati dalam
kondisi ekstrim (Doyle 1989, dalam
Kardiyanto 2003).
Gambar 3 Salmonella typhimurium
5
Banyak tipe Salmonella yang hidup
dalam usus hewan dan burung dan
menularkan ke manusia dari makanan yang
terkontaminasi oleh hewan. Menurut Nugroho
(2006), Salmonella tidak hanya mencemari
pada tingkat peternak saja tetapi dapat juga
mencemari telur ayam. Cemaran Salmonella
pada tingkat peternak sebesar 11.40% dan
pada tingkat telur sebesar 1.40%.
Tetrasiklin
Tetrasiklin adalah golongan antibiotik
yang secara kimia berkerabat dekat. Anggota
yang pertama, klortetrasiklin yang diisolasi
dari Streptomyces aureofaciens
(Actinomycete) (Schunack et al 1990).
Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari
Streptomyces rimosus. Tetrasiklin dapat
dibuat secara semisintetik dari klortertrasiklin,
tetapi juga dapat diperoleh dari spesies
Streptomyces lainnya. Tetrasiklin merupakan
basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk
garam natrium atau garam HCl-nya mudah
larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan
garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil,
tetapi dalam larutan kebanyakan tetrasiklin
sangat labil jadi cepat berkurang potensinya
(Ganiswarna 1995). Struktur kimia golongan
tetrasiklin dapat dilihat pada gambar 4.
Dalam sel bakteri, tetrasiklin bekerja
dengan menghambat biosintesis protein
(translasi) pada ribosom. Proses translasi yang
berlangsung di ribosom ini dapat digolongkan
menjadi pengawalan pembentukan rantai
(intiation), pemanjangan rantai (elongation),
dan penutupan rantai (termination). Pada fase
pemanjangan terjadi pemasukan asam amino
satu persatu secara berurutan ke dalam rantai
yang tengah tumbuh. Asam amino yang
terikat pada transfer t-RNA yang sesuai
(aminoasil-tRNA), mula-mula terikat pada
tempat akseptor ribosom dan kemudian
direalisasi pada rantai. Tetrasiklin bekerja
secara bakteriostatik karena penimbunan
aminoasil-tRNA pada tempat akseptor
dihambat. Namun, untuk ini sebenarnya
diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi
(Schunack et al 1990).
Gambar 4 Struktur kimia golongan tetrasiklin
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian untuk ekstraksi adalah rimpang
kunyit yang berasal dari pasar Jambu Dua,
heksana 70 %, dan es, sedangkan bahan-bahan
yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteri
adalah filtrat bawang putih, ekstrak metanol
rimpang kunyit, ekstrak etanol rimpang
kunyit, bakteri Salmonella typhimurium,
nutrient agar, nutrient broth, etanol 70%,
spirtus, air destilasta. Bahan-bahan yang
digunakan untuk uji fitokimia adalah ekstrak
metanol rimpang kunyit, kloroform, amoniak,
H2SO4 2M, pereaksi Dragendorf, Wagner,
Meyer, metanol 30 %, pereaksi Liebermen
Burchard, FeCl3 1%, dan akuades.
Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian untuk ekstraksi adalah Erlenemeyer
500 mL, labu bulat, corong, kertas saring,
pengaduk, vaccum rotary evaporator, neraca
analitik, inkubator bergoyang. Alat-alat yang
digunakan untuk uji aktivitas antibakteri
adalah laminar air flow, spektrofotometer,
magnetic strirrer, oven, inkubator bergoyang,
otoklaf, pemanas, lemari es, pH meter, cawan
petri, jarum ose, pembakar spirtus, autopipet,
neraca analitik, aluminium foil, kapas, mortar,
dan peralatan gelas, sedangkan alat-alat yang
digunakan untuk uji fitokimia adalah
Erlenmeyer, tabung reaksi, pipet Morh, dan
papan uji.
Metode Penelitian
Pembuatan Media
Nutrient Broth (NB). Sebanyak 13 gram
nutrient broth dilarutkan dalam 1 liter akuades
dan dipanaskan sambil diaduk sampai
homogen. Kemudian dimasukkan ke dalam
labu Erlenmeyer sebanyak 10 mL dan ditutup
dengan kapas dan aluminium foil. Kemudian
disterilisasi dengan menggunakan autoklaf
dengan suhu 121 ºC pada tekanan 2 atm
selama 15 menit.
Nutrient Agar (NA). Sebanyak 28 gram
nutrient agar dilarutkan dalam 1 liter akuades
dan dipanaskan sambil diaduk sampai
homogen. Kemudian dimasukkan ke dalam
tabung reaksi sebanyak 20 mL dan ditutup
dengan kapas dan aluminium foil. Kemudian
disterilisasi dengan menggunakan autoklaf
dengan suhu 121 ºC pada tekanan 2 atm
selama 15 menit.
Persiapan Sampel
Bawang putih. Bawang putih dikupas,
kemudian ditimbang sebanyak X gram, lalu
OH O
HO CH3
OH O
OH
C
OH
O
NH2
H N(CH3)2
R4 R1
1
2
5 4a 4 3
5a
8 7 6
9
10
11
11a 12a
12
6
dipotong kecil-kecil dan dihaluskan dengan
mortar kemudian disaring dengan
menggunakan kertas saring.
Ekstraksi Kunyit. Metode ekstraksi yang
digunakan pada penelitian ini adalah metode
Harborne (1987) yang dimodifikasi. Ekstraksi
dilakukan secara maserasi dengan pelarut
metanol. Rimpang kunyit dikupas dan
dibersihkan kemudian dipotong kecil-kecil
dan dihaluskan. Kemudian sebanyak kurang
lebih 200 gram dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer dan direndam dalam pelarut
etanol, metanol, dan heksana dengan masingmasing
rasio bahan: pelarut 1: 2, ditutup
dengan alumunium foil dan disimpan pada
suhu ruang dalam shaker bergoyang selama 24
jam. Kemudian filtrat dipisahkan.
Ekstrak yang diperoleh dievaporasi
menggunakan rotavapor vakum pada suhu 40
°C untuk menguapkan dan memekatkan
ekstrak. Ekstrak pekat ditimbang dan
didapatkan rendemennya. Rendemen ekstrak
yang didapat selanjutnya diuji kandungan
bahan kimianya dengan analisis kualitatif
fitokimia dan aktivvitas antibakterinya.
Rendemen ekstrak dihitung dengan cara
sebagai berikut:
bobot bahan
Rendemen (% b/b) = bobot ekstrak (gram) X 100%
Analisis Fitokimia (Harbone 1987)
Analisis fitokimia yang dilakukan dalam
penelitian ini hanya dilakukan secara
kualitatif, analisis ini dilakukan untuk
mengetahui senyawa-senyawa aktif yang
terkandung dalam ekstrak kunyit. Analisis
dilakukan berdasarkan metode Harborne
(1987). Senyawa yang diidentifikasi adalah
alkaloid, saponin, flavonoid, steroid dan
triterpenoid, minyak atsiri, dan tanin.
Uji Akaloid. Sebanyak 0.1 gram ekstrak
sampel kunyit ditambahkan 5 mL kloroform
dan 3 tetes amoniak. Fraksi kloroform
dipisahkan dan diasamkan dengan 2 tetes
H2SO4 2M. Fraksi Asam dibagi menjadi tiga
tabung kemudian masing-masing ditambahkan
pereaksi Dradedorf, Meyer dan Wagner.
Adanya alkaloid ditandai dengan terbentuknya
endapan putih ada pereaksi Meyer, endapan
merah pada perekasi Dragendorf, dan endapan
coklat pada pereaksi Wagner.
Uji Saponin. Sebanyak 0.1 gram ekstrak
sampel kunyit ditambahkan 5 mL akuades lalu
dipanaskan selama 5 menit. Kemudian
dikocok selama 5 menit. Busa yang terbentuk
setinggi kurang lebih 1 cm dan tetep stabil
setelah didiamkan selama 15 menit
menunjukkan adanya saponin.
Uji Flavonoid. Sebanyak 0.1 gram
ekstrak sampel ditambahkan dengan 5
metanol 30% kemudian dipanaskan selama 5
menit. Filtrat ditambahkan dengan H2SO4,
terbentuknya warna merah karena
penambahan H2SO4 menunjukkan adanya
senyawa falvonoid.
Uji Triterpenoid dan Steroid. Sebanyak
0.1 gram ekstrak sampel kunyit ditambahkan
5 mL etanol 30% lalu selama 5 menit
dipanaskan dan disaring. Filtratnya diuapkan
kemudian ditambahkan dengan eter. Lapisan
eter ditambahkan dengan pereaksi Liebermen
Burchard (3 tetes asetat anhidrida dan 1 tetes
H2SO4 pekat). Warna merah atau ungu yang
terbentuk menunjukkan adanya triterprnoid
dan warna hijau menunujukkan adanya
steroid.
Uji Minyak Atsiri. Sampel kunyit
dilarutkan dalam alkohol lalu diuapkan hingga
kering. Jika berbau aromatis yang spesifik,
maka sampel mengandung minyak atsiri.
Uji Tanin. Sebanyak 0.1 gram ekstrak
sampel kunyit ditambahkan 5 mL akuades
kemudian dididihkan selama 5 menit.
Kemudian disaring dan filtratnya ditambahkan
dengan 5 tetes FeCl3 1% (b/v). Warna biru tua
atau hitam kehijauan yang terbentuk
menunjukkan adanya tanin.
Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri menggunakan
metode metode perforasi atau difusi sumur
metode Bintang (1993). Kontrol positif yang
digunakan tetrasiklin tablet 500 mg dengan
konsentrasi 10 %.
Regenerasi Bakteri Uji. Sebelum
digunakan, bakteri yang akan dipakai harus
diregenasi terlebih dahulu. Bakteri yang
berasal dari kultur primer, mula-mula
dibiakkan ke dalam agar miring. Sebanyak
satu ose bakteri digoreskan ke dalam agar
miring lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama
24 jam. Biakan ini merupakan aktivitas awal
stok bakteri yang disimpan pada suhu 4-5°C.
Penentuan Panjang Gelombang
Maksimum. Sebanyak satu ose bakteri dari
stok biakan diambil lalu diinkubasi di dalam
media cair (NB) selama 18-24 jam pada suhu
27 °C dan sambil dikocok menggunakan
inkubator bergoyang. Setelah itu biakan
bakteri diukur absorbansi dengan
menggunakan spektrofotometer pada panjng
gelombang 600-660 nm dengan interval 10
nm. Absorbansi terbesar menunjukkan
panjang gelombang maksimum dan ini yang
akan digunakan untuk mengukur OD bakteri
selanjutnya.
7
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Kunyit. Uji awal aktivitas antibakteri
dilakukan dengan difusi sumur. Sebanyak satu
ose dari stok biakan diambil lalu diinkubasi ke
dalam media cair (NB) selama 18-24 jam pada
suhu 27 °C sambil dikocok menggunakan
inkubator bergoyang. Setelah itu biakan
bakteri diukur absorbansinya pada panjang
gelombang maksimum. Jika OD yang didapat
lebih kecil dari satu, biakan yang diambil
sebanyak 100 μL, tetapi jika OD yang didapat
lebih besar dari satu, biakan bakteri yang
diambil sebanyak 50 μL. Kemudian
dimasukkan ke dalam cawan petri yang sudah
steril, lalu dituang 20 mL media padat (NA)
bersuhu ±40 °C, kemudian cawan
digoyangkan agar bakteri tersebar rata.
Selanjutnya didiamkan pada suhu kamar
sampai media agar memadat. Setelah padat,
agar dilubangi dengan diameter ± 6 mm. Ke
dalam lubang tersebut dimasukkan ekstrak
kunyit pada berbagai pelarut sebanyak 50 μL
lalu diinkubasi pada suhu 27 °C selama 24
jam. Zona bening yang terlihat disekeliling
lubang, menandakan adanya aktivitas
antibakteri pada ekstrak kunyit. Setelah
diketahui bahwa ekstrak kunyit mempunyai
aktivitas antibakteri, hasil yang menunjukkan
zona hambat terbesar dari ketiga ekstrak
kunyit tersebut yang akan digunakan dalam uji
selanjutnya.
Penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh
Minimun (KHTM)
Setelah diketahui ekstrak kunyit
mempunyai aktivitas antibakteri, selanjutnya
ekstrak kunyit dan bawang putih ditentukan
Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum dan
Maksimumnya terhadap bakteri uji. KHTM
digunakan untuk mengetahui konsentrasi
minimum dari suatu larutan antimikrob
terhadap pertumbuhan mikroba tertentu.
Variasi konsentrasi yang digunakan untuk
menentukan KHTM pada penelitian ini yaitu
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 20, 30, 40, 50, 60,
70, 80, 90, dan 100 % b/v. Sebanyak 50 μL
dari masing-masing konsentrasi diuji dengan
memasukkan ke lubang media NA yang telah
diinokulasi dengan S. typhimurium. Setelah itu
diinkubasi pada suhu 27 °C selama 24 jam.
Aktivitas antibakterinya diperoleh dengan
mengukur zona bening disekeliling lubang
sampel.
Pengujian Aktivitas Antibakteri Selama
Penyimpanan
Bawang putih dikupas, kemudian
ditimbang sebanyak Y gram, lalu dipotong
kecil-kecil dan dihaluskan dengan mortar lalu
disaring dengan menggunakan kertas saring.
Kemudian aktivitas antibakterinya diuji lagi
pada hari ke-0, ke-3, dan ke-7.
Analisis Statistik
Analisis statistik yang digunakan adalah
rancangan percobaan dua faktor dalam
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Model
rancangannya:
Yij = μ + τi + εij
Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan
ulangan ke-j
μ = Pengaruh rataan umum
τ = Pengaruh perlakuan ke-i
ε = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i
ulangan ke-j
Rancangan ini digunakan pada uji
antibakteri penentuan KHTM dan uji
antibakteri terhadap penyimpanan
menggunakan cara perforasi metode Bintang
(1993). Data yang diperoleh dianalisis dengan
ANOVA (analysis of variance) pada tingkat
kepercayaan 95% dan taraf α 0.05. Uji lanjut
yang digunakan adalah uji Tukey. Semua data
dianalisis dengan program SPSS 14.0
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Pendahuluan
Sampel yang digunakan pada penelitian
ini adalah bawang putih dan rimpang kunyit.
Bawang putih yang digunakan pada penelitian
ini yaitu filtratnya, sedangkan rimpang kunyit
yang digunakan adalah ekstrak metanol.
Bawang putih pada penelitian ini tidak
diekstrak karena berdasarkan penelitian
Rustama (2005) bahwa ekstrak murni (filtrat
bawang putih) memiliki daya hambat paling
besar dibandingkan dengan ekstrak air atau
ekstrak etanol baik terhadap bakteri Gram
positif maupun negatif. Hal ini disebabkan
karena pada ekstrak murni bawang putih
mengandung senyawa lengkap yaitu senyawa
yang polar dan non-polar. Pada ekstrak murni
semua jenis senyawa yang terlarut ada di
dalamnya. Akan tetapi, pada ekstrak air dan
etanol, senyawa yang terekstraksi terbatas
pada senyawa yang terekstrak oleh pelarut
yang digunakan saja.
Rimpang kunyit diekstrak dengan
menggunakan tiga pelarut yang berbeda, yaitu
etanol 95 %, heksana 70 %, dan metanol 70
%. Ekstrak etanol yang dilakukan dalam
penelitian ini menggunakan dua metode, yang
pertama yaitu ekstraksi dengan menggunakan
8
metode yang sama dengan ekstrak heksana
dan ekstrak metanol, yang kedua ekstrak
etanol pertama dilarutkan lagi dengan etanol
kemusian didiamkan sampai mengendap dan
di saring. Setelah itu dipekatkan kembali
dengan menggunakan rotapavour.
Berdasarkan Gambar 5 ekstrak etanol
dengan satu kali ekstraksi dan ekstrak heksana
konsentrasi 100 % tidak memiliki aktivitas
antibakteri. Akan tetapi, ekstrak etanol dengan
dua kali ekstraksi dan ekstrak heksana dengan
konsentrasi 50 % memiliki zona hambat
sebesar 6.75 mm dan 7.25 mm. Ekstrak
metanol memiliki zona hambat sebesar 10.00
mm. Karena dari ketiga ekstrak tersebut zona
hambat terbesar dimiliki oleh ekstrak metanol,
maka untuk penelitian selanjutnya digunakan
ekstrak metanol.
Rimpang kunyit yang digunakan untuk
ekstrak yaitu rimpang kunyit segar (tanpa
pengeringan), karena berdasakan penelitian
Sukraso dkk. (2000), pengeringan dapat
menurunkan kadar minyak atsiri, sedangkan
minyak atsiri sangat berpotensi untuk
menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu,
pengeringan juga dapat menyebabkan
perubahan komposisi minyak atsiri yang
disebabkan oleh oksidasi.
Gambar 5 Aktivitas antibakteri berbagai
ekstrak rimpang kunyit
Ekstraksi Rimpang Kunyit
Metode yang digunakan untuk
mengekstrak rimpang kunyit adalah secara
maserasi dengan metode Harborne (1987)
yang dimodifikasi. Maserasi merupakan
teknik ekstraksi yang dilakukan untuk bahan
yang tidak tahan panas dengan cara
perendaman di dalam pelarut tertentu selama
waktu tertentu. Ekstraksi menggunakan teknik
ini karena sederhana tapi menghasilkan
produk yang baik, selain itu dengan teknik ini
zat-zat yang tidak tahan panas tidak akan
rusak. Banyak penelitian tentang isolasi bahan
aktif dari tanaman untuk uji antibakteri
menggunakan teknik ini.
Pelarut yang digunakan dalam proses
ekstraksi pada penelitian ini adalah metanol.
Pemilihan pelarut didasarkan karena ekstrak
yang dihasilkan memiliki zona hambat
terbesar bila dibandingan dengan ekstrak
etanol dan heksana. Selain itu, ekstrak
metanol memiliki rendemen yang paling
tinggi yaitu 7.31 %, sedangkan ekstrak etanol
4.91 %, dan heksana 1 %.
Berdasarkan Lampiran 5, rendemen yang
dihasilkan dari ketiga ekstrak metanol
berbeda-beda. Hal ini mungkin disebabkan
pada ekstrak kedua dan ketiga senyawa polar
lebih sedikit dibandingkan dengan ekstrak
pertama. Karena prinsip ekstraksi yaitu like
disolve like yaitu pelarut polar akan
melarutkan senyawa polar dan sebaliknya
senyawa nonpolar akan melarutkan senyawa
nonpolar (Khopkar 1990). Metanol
merupakan pelarut yang cukup polar, dengan
kepolaran 0.73 (Moyler 1995).
Analisis Fitokimia
Analisis fitokimia dilakukan untuk
mengidentifikasi secara kualitatif golongan
senyawa aktif yang terdapat pada suatu
tanaman. Analisis fitokimia dilakukan pada
ekstrak metanol rimpang kunyit (Curcuma
domestica Val.), sedangkan analisis fitokimia
filtrat bawang putih tidak dilakukan pada
penelitian ini, karena sudah banyak yang
melakukan analisis fitokimia filtrat bawang
putih, sehingga pada penelitian ini data untuk
analisis fitokimia filtrat bawang putih
menggunakan data yang sudah ada.
Berdasarkan hasil penelitian Rustama
dkk. (2005) bawang putih mengandung
senyawa alkaloid, saponin, dan tanin,
sedangkan berdasarkan penelitian Safithri
(2004), bawang putih mengandung
karbohidrat, protein, sterol, alkaloid,
flavonoid, fenol hidroquinon, dan saponin.
Rustama dkk. tidak melakukan analisis
terhadap karbohidrat, protein, sterol, fenol
hidroquinon, dan triterpenoid, sedangkan
Safithri hanya tanin yang tidak dianalisis.
Bawang putih yang digunakan oleh
Rustama dkk. untuk analisis fitokimia adalah
filtratnya, sedangkan bawang putih yang
digunakan oleh Safithri adalah bawang putih
yang telah diekstrak dengan air. Analisis
fitokimia yang dihasilkan oleh Rustama dkk.
dan Safithri terdapat perbedaan yaitu pada
hasil penelitian Rustama filtrat bawang putih
tidak mengandung flavonoid, sedangkan pada
penelitian Safithri ekstrak air bawang putih
9
mengandung flavonoid. Hal ini diduga karena
flavonoid berupa senyawa yang larut dalam
air. Flavonoid dapat diekstraksi dengan etanol
70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah
ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi.
Oleh sebab itu, pada penelitian Rustama dkk.
tidak ditemukan senyawa flavonoid, karena
untuk menghasilkan senyawa flavonoid
dibutuhkan suatu pelarut. Selain itu juga
karena flavonoid jarang terdapat tunggal
dalam tumbuhan (Harborne 1987).
Analisis fitokimia yang dilakukan pada
ekstrak metanol rimpang kunyit yaitu analisis
senyawa alkaloid, saponin, flavonoid,
sterol/triterpenoid, minyak atsiri, dan tanin.
Hasil analisis fitokimia dapat dilihat pada
Tabel 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa
ekstrak metanol rimpang kunyit mengandung
alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid,
minyak atsiri, dan tanin. Pelczar & Chan
(1988) mengatakan bahwa senyawa yang
bersifat sebagai antimikrob antara lain
alkohol, senyawa fenolik, klor, iodium, dan
etilen oksida. Flavonoid dan tanin termasuk
golongan senyawa fenolik, sehingga kedua
senyawa ini diduga sebagai senyawa
antibakteri pada ekstrak metanol rimpang
kunyit, sedangkan pada filtrat bawang putih,
selain alisin juga terdapat tanin yang bersifat
sebagai senyawa antibakteri. Flavonoid
sebagai antibakteri juga didukung oleh
penelitian Kosalec et al. (2005) bahwa
flavonoid dapat menghambat pertumbuhan B.
subtilis, S. aureus, P. Pyogenes, E. faecalis,
dan C. albicans.
Harborne (1987) menyatakan bahwa
flavonoid berperan sebagai faktor pertahanan
alam, sedangkan tanin merupakan senyawa
yang berasa sepat dan banyak terdapat pada
tanaman hijau. Keberadaan tanin dalam sel
mengganggu penyerapan protein oleh cairan
tubuh karena menghambat proteolitik
menguraikan protein menjadi asam amino
(Harborne 1987). Selain senyawa fenolik,
sterol dan alkaloid juga diduga berpotensi
sebagai antibakteri. Menurut Harborne (1987),
alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan
sekunder terbesar dan seringkali beracun
sehingga sering digunakan secara luas dalam
bidang pengobatan. Jouvenaz et al. (1972) dan
Karou et al. (2006) mengatakan bahwa steroid
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram
positif dan negatif, namun mekanisme
penghambatan senyawa alkaloid terhadap
bakteri belum jelas.
Terpenoid terdiri atas beberapa macam
senyawa, yaitu minyak atsiri yang mudah
menguap, triterpenoid, dan sterol serta pigmen
karetenoid yang sukar menguap. Bagian
utama minyak atsiri adalah terpenoid. Zat ini
menyebabkan wangi, harum, atau bau yang
khas (Harborne 1987). Menurut Darwis et al.
(1991) minyak atsiri yang terdapat dalam
kunyit mempunyai daya hambat terhadap
pertumbuhan mikroorganisme penyebab
radang kantung empedu.
Tabel 1 Hasil analisis fitokimia ekstrak
metanol rimpang kunyit
Senyawa Hasil
Alkaloid
Saponin
Flavonoid
Sterol/triterpenoid
Minyak atsiri
Tanin
+
-
+
+
+
+
Efektivitas Penghambatan Filtrat Bawang
putih dan Ekstrak Metanol Rimpang
Kunyit Terhadap Tetrasiklin 10 %
Sampel yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu filtrat bawang putih dan ekstrak
metanol rimpang kunyit, karena filtrat bawang
putih dan ekstrak metanol rimpang kunyit
menunjukkan hasil positif terhadap
penghambatan bakteri S. typhimurium.
Pembanding yang digunakan dalam uji ini
adalah tetrasiklin dengan konsentrasi 10 %.
Daya hambat tetrasiklin terhadap S.
typhimurium sebesar 11.69 mm. Tetrasiklin
merupakan antibiotik yang bekerja
menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses
dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom
bakteri Gram negatif, pertama difusi pasif
melalui kanal hidrofilik dan kedua sistem
transport aktif. Setelah antibiotik masuk, maka
antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan
menghalangi masuknya kompleks tRNA-asam
amino pada lokasi asam amino (Ganiswara
1995).
Perbandingan penghambatan filtrat
bawang putih dan ekstrak metanol rimpang
kunyit dengan tetrasiklin 10 % dapat dilihat
pada Gambar 6. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa filtrat bawang putih dengan konsentrasi
2 % sampai 10 % memiliki aktivitas
antibakteri lemah dengan zona hambat sekitar
2.58 mm sampai 4.87 mm, sedangkan pada
konsentrasi 20 % dan 30 % filtrat bawang
putih mempunyai akivitas antibakteri sedang
dengan zona hambat 7.54 mm dan
10
0
2
4
6
8
10
12
14
Zona hambat (mm)
1 3 5 7 9 20 40 60 80 100
Konsentrasi (%)
Filtrat bawang putih Ekstrak metanol rimpang kunyit Tetrasiklin 10 %
Gambar 6 Perbandingan daya hambat filtrat bawang putih dan ekstrak metanol rimpang kunyit
terhadap tetrasiklin 10 %
8.75 mm dan pada konsentrasi 40 % sampai
100 %, aktivitas antibakteri filtrat bawang
putih tergolong kuat dengan zona hambat
sekitar 10.08 mm sampai 12.13 mm. Ekstrak
metanol rimpang kunyit dengan konsentrasi 2
% sampai 20 % memiliki aktivitas antibakteri
yang lemah dengan zona hambat sekitar 0.48
mm sampai 4.67 mm, sedangkan konsentrasi
30 % sampai 100 % ekstrak metanol rimpang
kunyit memiliki aktivits antibakteri yang
tergolong sedang dengan zona hambat sekitar
5.81 mm sampai 7.77 mm. Tetrasilkin
memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong
kuat dengan zona hambat sebesar 11.69 mm.
Efektivitas filtrat bawang putih 10 (4.54
mm) dan ekstrak metanol rimpang kunyit 10
% (3.38 mm) hanya 38.84 % dan 28.91 % jika
dibandingkan dengan tetrasiklin 10 %. Uji
statistik (P<0.05) menunjukkan bahwa
tetrasiklin 0.01 mg/mL dengan filtrat bawang
putih konsentrasi 50 % sampai 100 %
menghasilkan zona hambat yang tidak
berbeda, artinya filtrat bawang putih dengan
konsentrasi 50 % sampai 100 % setara dengan
tetrasiklin 10 %. Akan tetapi, ekstrak metanol
rimpang kunyit sampai konsentrasi 100 %
menghasilkan zona hambat yang berbeda
dengan tetrasiklin 10 %. Analisis statistik
dapat dilihat pada Lampiran 14.
Penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh
Minimum (KHTM)
Penentuan konsentrasi hambat tumbuh
minimum dan maksimum dilakukan untuk
mengetahui konsentrasi terendah dan tertinggi
dari filtrat bawang putih dan ekstrak metanol
rimpang kunyit yang masih dapat
menghambat pertumbuhan bakteri uji.
Konsentrasi yang digunakan bervariasi antara
1 sampai 100 %. Hasil pengamatan zona
bening dapat dilihat pada Gambar 7. Pada
gambar 7 dapat dilihat bahwa KHTM yang
dihasilkan oleh filtrat bawang putih dan
ekstrak metanol rimpang kunyit berbeda.
Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh
kandungan senyawa aktif yang terdapat pada
filtrat bawang putih dan ekstrak metanol
rimpang kunyit berbeda.
Secara umum diameter zona hambat zat
antibakteri filtrat bawang putih lebih besar
bila dibandingkan dengan ekstrak metanol
rimpang kunyit, hal ini dapat dilihat dari
tinggi diagram pada Gambar 7, sehingga dapat
disimpulkan bahwa S. typhimurium lebih peka
terhadap filtrat bawang putih dibandingan
ekstrak metanol rimpang kunyit. Gambar 7
juga memperlihatkan bahwa pada konsentrasi
1 % dari filtrat bawang putih dan ekstrak
metanol rimpang kunyit mempunyai daya
hambat sebesar 0 mm. Hal ini menunjukkan
bahwa baik filtrat bawang putih maupun
ekstrak metanol rimpang kunyit tidak
mempunyai aktivitas antibakteri terhadap S.
typhimurium.
Filtrat bawang putih dengan konsentrasi 2
% sampai 10 % memiliki aktivitas antibakteri
yang tergolong lemah dengan zona hambat
sekitar 2.58 mm sampai 4.87 mm, sedangkan
pada konsentrasi 20 % dan 30 %, filtrat
bawang putih mempunyai aktivitas antibakteri
yang sedang dengan zona hambat 7.54 mm
dan 8.75 mm dan pada konsentrasi 40 %

Tidak ada komentar:

Posting Komentar